TRIBUNNEWS.COM-Orang dengan akronim KU (45) adalah warga Golewa Selatan, Kabupaten Ngada, Nyonya Tenggara Timur (NTT), dan membuat gundiknya EE (44) kejang-kejang hingga tak bergerak. Belakangan diketahui bahwa wanita itu telah meninggal.

Kemudian, KU dilindungi oleh polisi. Berdasarkan pasal 306, ayat 2, KUHP, dia dituntut karena diyakini membiarkan seseorang mati ketika mereka membutuhkan bantuan. Pelaku ditangkap pada 11 Agustus 2020.

Membaca: Cucu menjadi korban perzinahan, pelakunya adalah kakeknya sendiri, mengetahui bahwa perilaku menjilati nenek adalah kejang-kejang diam, dan kemudian tidak bergerak. I Ketut Rai Artika, Ketua Tim Reserse Kriminal Polsek IPTU, mengatakan lewat pesan singkat (Kamis 10 September 2020).

Mengetahui korban membutuhkan pertolongan, penulis tidak langsung mengungsi ke rumah sakit, namun tersesat. Persepsi .

Baca: Suami Tampar Tulang Masak di Palembang, Bahkan Istri Ditipu Guru-Setelah Meninggal, Meletakkan Baju Korban di Atas Penyerang dan Mengambil Ponselnya .

Tiga hari setelah kejadian atau pada 14 Agustus 2020, seorang warga akhirnya menemukan korban.

Setelah mengetahui kabar tersebut, penyerang panik dan melemparkan ponsel korban ke atas kapal sebagai upaya untuk menghilangkan jejak. Sampai dengan tanggal 25 Agustus 2020, pelaku telah berhasil mendapatkan jaminan keamanan.

Berdasarkan hasil penyidikan, pelaku mengakui perbuatannya.Sepanjang perbuatannya, menurut Pasal 306 ayat 2 KUHP penulis adalah Tuntutan diajukan dan hukuman maksimalnya bisa 9 tahun penjara.

Diyakini bahwa penulis mengabaikan orang yang membutuhkan pertolongan dan menyebabkan kematian. Nyonya rumah dibunuh setelah diundang untuk berhubungan seks, dan ponsel yang tidak membantunya diambil

Add Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *