TRIBUNNEWS.COM-Joko Wibowo, suami perawat virus corona, ditolak di pemakaman di Semarang, ia membeberkan kondisi anak usai kejadian tersebut. Itu dihapus dari Pemakaman Umum Sewakul (TPU) di Desa Bandarjo, Ungaran Barat, Kabupaten Semarang Kamis lalu (4 September 2020). Joko kemudian mencoba membuat ketiga anaknya mengerti, jika semua orang pasti akan mati.

“Pertama-tama, stres dan trauma tentu saja melihat ibunya. Aku telah merawat pasien sampai saat itu. Aku mengorbankan diriku.”

“Tapi, sebagai orang tua, aku harus terus menerima pendidikan, dengan cara ini Saya dapat menerima bahwa manusia hidup di dunia ini, Tuhan, dan akhirnya, anak-anak dapat menerimanya. “, Kamis (16/4/2020) .

Baca: Relawan satgas masih membutuhkan dokter dan perawat yang menghadapi virus korona

Membaca: Berikut adalah nama-nama dari 13 perawat yang meninggal saat bertugas selama pandemi Covid-19-Najwa Shihab, penyelenggara Mata Najwa, kemudian meminta Joko untuk bertanya Pemerintah atau masyarakat menyampaikan harapan. Penolakan tubuh tidak akan terjadi lagi. Dia merasa bahwa dia menolak perasaan anggota keluarga korban.

“Semoga ini akan menjadi hal terakhir yang terjadi pada istriku. Karena itu benar-benar menyakitkan, menyakitkan melihat penolakan seperti itu,” katanya.

Selama masa ini, dia tidak ingin ketiga anaknya ditolak oleh komunitas dan teman-temannya di sekolah.

Add Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *