TRIBUNNEWS.COM-Tri Nugraha di Bali banyak menyedot perhatian usai menyandang status tersangka tindak pidana syukur dan pencucian uang (TPPU).

Kejati Bali menetapkan Tri sebagai tersangka sejak November lalu. 2019 .

Bersamaan dengan itu, dalam kasus TPPU, tim penyidik ​​yang dipimpin Asep Maryono, Wakil Ketua Kejaksaan Agung (Wakajati), kembali menetapkan Tri sebagai tersangka pada April 2020. Agustus 2019.

Kantor Investigasi Kejaksaan Bali menginterogasi total 26 saksi yang diwawancarai. Empat bulan kemudian, Tri ditetapkan sebagai tersangka kasus tipping.

Selanjutnya, tim penyidik ​​menerima laporan pemilahan transaksi keuangan dari Pusat Pelaporan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK). Untuk TTPU, Tri kembali ditetapkan sebagai tersangka.

Dalam proses perkara ini, tim penyidik ​​menyita sebagian aset atau aset Tri atas nama orang lain, namun diduga terkait tipping dan TPPU.

Harta yang disita berupa sertifikat hak milik (SHM) dan Bangunan yang ditempati mantan istri Tri di jalan menuju Gunung Talang di Padang Sambian, Denpasar Barat, sertifikat tanah Dalong, Kuta Utara, Padang mewakili Tri Nugraha dan 250 hektar karet di Lubuklinggau, Sumatera Selatan Perkebunan.

Selain itu, penyidik ​​juga mendapatkan sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB). Sedangkan barang bergerak yang diamankan antara lain truk, Jeep Wrangler, mobil Mazda, mobil mini klasik, motor Kawasaki Ninja, motor Husqvarna, motor Harley Davidson, dan motor Ducati.

Add Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *