Jakarta TRIBUNNEWS.COM-Sebagai anggota Dewan Organisasi Maritim Internasional (IMO), pemerintah Indonesia melalui Administrasi Umum Angkutan Laut Kementerian Perhubungan kembali menghadiri sidang kedua Dewan Khusus IMO di Jakarta pada Senin (15 Juni 2020). Pertemuan formal atau sesi khusus Dewan yang ketiga puluh dua.

Ini adalah pertemuan informal pertama. Konferensi akan dilaksanakan pada 26 Mei 2020, dan akan berlanjut hingga konferensi ketiga pada 25 Juni 2020 dan konferensi keempat pada 3 Juli 2020.

Baca: Memasuki Era Normal Baru, Kementerian Perhubungan Awasi SE 12/2020 di Pelabuhan Biak-Ini Dirut Ditjen Perhubungan Laut Arif Toha (Arif Toha) Selaku Indonesia Ketua Delegasi (HoD) Indonesia hadir dalam pertemuan tersebut. — “Pada pertemuan informal pertama, pertemuan kedua pertemuan saat ini dilanjutkan dengan pembahasan agenda pada pertemuan informal pertama dengan fokus pada pembahasan agenda 3 yaitu prioritas dan pembangunan kembali kalender IMO, Kata Arif.

Baca: Tiga Kapal Induk Amerika yang Mengangkut Ratusan Jet Tempur F-18 Tiba di Laut China Selatan

Arif menjelaskan, sebagian besar anggota panitia IMO pada prinsipnya telah menyetujui pelaksanaan proyek rekonstruksi pertemuan IMO / dalam hal ini Pada pertemuan ini, pertemuan C 124, ISWG GHG 7, MEPC 75 dan MSC 102 diberi prioritas tertinggi.

“Kami menyampaikan dukungan Indonesia untuk tidak mengadakan pertemuan / pertemuan IMO pada Agustus 2020 dan menyetujui prioritas pertemuan. Selain itu, kami juga merekomendasikan agar Dewan mempertimbangkan prioritas yang diusulkan dari pertemuan lain dan menjajaki pertemuan lainnya Rencanakan, pertemuan informal, atau melalui komunikasi seperti sekarang, ”jelas Arif.

Baca: KSOP Tanjung Balai Karimun berkomitmen untuk selamatkan MV. Shahraz- “Tentu saja, pertemuan virtual atau pertemuan komunikasi ini juga harus mempertimbangkan perbedaan waktu, pembatasan partisipasi online dan kemampuan teknis, dengan tetap menjaga transparansi dan inklusivitas, yang akan dilakukan sebelum pertemuan khusus ke-32. Pembahasan lebih lanjut. Panitia, ”imbuhnya. — Pada saat yang sama, Yudhonur Setyadji, Direktur Sub Biro Pelayaran Luar Negeri yang menjabat sebagai Wakil Ketua Indonesia, mengatakan bahwa Indonesia juga mengusulkan untuk menyusun jadwal rapat terpadu terkait dengan waktu, waktu dan frekuensi pertemuan, serta mempertimbangkan kapasitas pertemuan. Dan kemampuan untuk menampung delegasi. — “Selain itu, penting juga untuk merumuskan prosedur kesehatan dan keselamatan kerja sesuai dengan kesepakatan sanitasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tentang waktu pertemuan, jarak sosial, kebersihan lingkungan, dan kebersihan diri,” kata Yuduo.

Indonesia pun menerima usulan negara tersebut. Pada prinsipnya. Anggota lain akan mengembangkan rencana pemulihan yang komprehensif untuk mendukung kemajuan dan pekerjaan organisasi selama pandemi Covid 19 dan seterusnya.

“Youde mengatakan:” Manajemen risiko dan rencana kontingensi juga harus dirumuskan secepat mungkin dengan mempertimbangkan kemungkinan bahwa kami tidak dapat mengadakan pertemuan rutin sebelum Oktober 2020 atau kuartal keempat 2020. -Selain itu, menurut Yudho, Indonesia juga mendukung perubahan agenda pada setiap pertemuan. Yudho mengatakan: “Rencana berorientasi hasil berdasarkan renstra telah disetujui. Rencana tersebut diharapkan dalam dua tahap antara tahun 2020 dan 2021. Selesai dalam setahun. Ini termasuk peluang yang sama, transparansi, efisiensi, solusi teknis, dan keamanan data. “: Kapal China menyerang kapal Vietnam di Laut China Selatan-Indonesia juga mendukung Sekretariat IMO dalam mempersiapkan implementasi segera amandemen instrumen wajib IMO untuk diratifikasi dan diadopsi .-” Mengenai hasil ini, Indonesia menyatakan pada pertemuan informal. Pandangannya bahwa ringkasan pertemuan ini hanya mencerminkan pendapat yang dikemukakan oleh negara-negara anggota, tetapi tidak mengikat. “(*)

Add Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *