TRIBUNNEWS.COM melindungi hutan dan sumber daya alam adalah perjuangan untuk melindungi kehidupan berbangsa dan bernegara. Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya (Siti Nurbaya) juga meyakini bahwa kekuatan ilmu pengetahuan dan moralitas merupakan kunci utama dalam menjaga sumber daya alam tersebut.

Hal ini diungkapkan pada seminar “Penguatan peran pihak dalam implementasi” “Para profesional kehutanan” pada Kongres Forum Pimpinan Perguruan Tinggi Kehutanan Indonesia (FOReTIKA) 2020 hampir digelar pada Kamis (9/10, 2020) .- Dalam kesempatan tersebut, Siti Nurbaya menyampaikan perlunya kemerdekaan bangsa. Profesionalisme anak bangsa biasanya tercermin dalam lingkungan ekonomi dimana insinyur harus memegang peranan penting. Bergerak menuju kemajuan. Siti Nurbaya mengatakan salah satu tanggung jawabnya adalah mengembangkan instrumen dan teknologi untuk memajukan Indonesia ke masa depan. SitiNurbaya juga menekankan bahwa hal itu harus dipercepat Upaya pelembagaan profesi insinyur biologi, khususnya insinyur kehutanan, menarik perhatian serius.

Tidak ada pilihan, karena UUD 1945 juga menekankan pada Pasal 33: “Tanah, air dan alam diantaranya Sumber daya dikendalikan oleh negara dan digunakan untuk kemakmuran rakyat yang lebih besar “(3) dan organisasi” ekonomi nasional “. Atas dasar demokrasi ekonomi, sejalan dengan asas persatuan, keadilan, efisiensi, keberlanjutan, pengertian lingkungan, kemandirian dan menjaga keseimbangan antara kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional ”(ayat 4), yaitu pengelolaan perguruan tinggi kehutanan di Indonesia. Forum juga membahas masalah kebijakan pembangunan hutan, yaitu Kesatuan Pengelolaan Pembangunan Hutan (KPH), Pengelolaan Kawasan Hutan Pente (KHDTK), perhutanan sosial, konservasi sumber daya, sumber daya alam dan keanekaragaman hayati, serta struktur organisasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Substansi UU No 5/1990 dan UU No 41/1999, serta isu-isu pertanian dan beberapa topik lainnya. FORETIKA hari ini bertujuan untuk mewujudkan keterkaitan dan kesesuaian antara pendidikan dan dunia kerja, standar kompetensi nasional pendidikan tinggi kehutanan, Dan salah satu pokok permasalahan yang diangkat dalam rapat anggota FOReTIKA tersebut adalah memberikan tenaga ahli kehutanan yang profesional dan handal sesuai dengan kewenangan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2014 tentang Keteknikan.

Presiden FOReTIKA Riekso Soekmadi mengatakan pada pertemuan ini , FORETIKA mengajukan dua agenda khusus untuk FORETIKA 2020 yaitu seminar dengan tema “Penguatan”. Bersama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Departemen (dalam hal ini Biro Riset dan Inovasi (BLI) dan Badan P Consulting and Human Resources Kementerian Pengembangan Sumber Daya (BP2SDM), dan juga Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), khususnya Biro Pendidikan Tinggi, Asosiasi Pengusaha Kehutanan Indonesia (APHI) dan Ikatan Insinyur Indonesia (PII). Di waktu yang bersamaan, konferensi yang kedua ini Agenda ini untuk rapat paripurna FORETIKA yang rencananya akan dilaksanakan pada Selasa (15/9/2020).

“Kami ingin mengucapkan terima kasih, karena selama ini dalam setiap rapat FORETIKA, Menteri LHK dan Departemen LHK BP2SDM telah bersiap. Kami berharap kerjasama ini dapat semakin diperluas melalui partisipasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, khususnya Biro Pendidikan Tinggi. “: Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan mendorong pemilik IPPKH untuk mempercepat pemulihan DAS hingga Desember 2020.

Add Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *