TRIBUNNEWS.COM-Saat ini dunia sedang menghadapi pemanasan global yang disebut dengan Greenhouse Gas (GHG) atau Gas Rumah Kaca / GHG akibat peningkatan suhu bumi yang disebabkan oleh emisi gas buang (termasuk yang berasal dari pengoperasian kapal). Dalam rangka mengurangi emisi gas buang kapal, International Maritime Organization (IMO) melalui MARPOL Annex VI menetapkan metode pengurangan emisi gas buang kapal dengan menerapkan efisiensi energi di kapal untuk mengurangi konsumsi bahan bakar di kapal. Dengan mengetahui total konsumsi bahan bakar kapal di seluruh dunia, kita dapat menghitung emisi gas buang tahunan yang dihasilkan kapal dan mengetahui perbandingan pengurangan emisi gas buang tahunan. Kami akan mendukung rencana ini dengan menerapkan efisiensi energi dan secara aktif melaporkan konsumsi bahan bakar kapal tahunan. Kurangi emisi gas rumah kaca, ”kata Laut R. Agus H. Purnomo, Direktur Jenderal Perhubungan, di atas kapal aplikasi sistem pelaporan konsumsi bahan bakar (data collection system) yang diluncurkan di Jakarta, Jumat (10/7). Baginya, Indonesia adalah dunia. Seorang anggota komunitas maritim juga secara aktif mendukung hasil kesepakatan tersebut.Semua negara anggota IMO diwajibkan untuk melaporkan konsumsi bahan bakar semua kapal kepada IMO melalui Data Collection System (DCS) setiap tahun, terutama yang bermesin GT 5000 atau lebih besar. — Di saat yang sama, Kapten Sudiono, Direktur Biro Navigasi dan Maritim, mengatakan bahwa sistem aplikasi merupakan implementasi dari proyek perubahan rencana PIM II, dan penanggung jawab departemen pencegahan pencemaran dan manajemen keselamatan kapal saat ini ikut serta. East bisa lebih mudah melaporkan konsumsi BBM kapalnya setiap tahun .- “Melalui aplikasi ini, deklarasi konsumsi BBM online (sistem pendataan) kapal berbendera Indonesia dapat diselesaikan secara online, di mana pun Anda berada, Anda dapat dengan mudah dan cepat mengaksesnya. Aplikasi, jadi gunakan dan dukung acara ini jika memungkinkan. Kapten Sudino berkata: “Kaca membuat tanah kita selalu nyaman.” Selain itu, sebagai anggota Dewan Organisasi Maritim Internasional, organisasi tersebut telah berperan aktif dalam melindungi para pelaut. Lingkungan laut, mulai 1 Januari 2020, Administrasi Umum Angkutan Laut Kementerian Perhubungan telah menetapkan bahwa kapal yang mengibarkan bendera Indonesia harus diberlakukan. Selain itu, kapal asing yang menggunakan bahan bakar sulfur rendah atau peraturan IMO2020 yang lebih terkenal harus menggunakan bahan bakar dengan kandungan sulfur hingga 0,5% m / m. Sebuah metode untuk menghilangkan pencemaran lingkungan laut. – Direktur Jenderal mengeluarkan Surat Edaran Dirjen Perhubungan Laut UM.003 / 93/14 / DJPL-18 pada tanggal 30 Oktober 2018. Kandungan bahan bakar dan konsumsi bahan bakar di atas kapal Kewajiban.

“Melalui kebijakan penggunaan rendah sulfur yang diberlakukan, kami dapat menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia adalah negara kepulauan yang aktif dan peduli terhadap perlindungan Indonesia. Lingkungan laut”, tutup Kapten Sudiono. (*)

Add Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *